Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan

"Institut Teknologi Sumatera"

               

Pentingnya Sebuah Observatorium Astronomi di Sumatera


February 10th, 2021 | Posted by: admin


Ditulis Oleh :
Dr. Hakim Luthfi Malasan, M.Sc. Kepala UPT Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL)
Artikel ini telah ditayangkan di media kompas.id 

Dalam beberapa hari belakangan ini, media televisi, surat kabar, termasuk media sosial, ramai pemberitaan peristiwa meteor yang tergolong dalam kategori fireball (ledakan besar) diikuti jatuhnya meteorit (batuan jatuh dari ruang angkasa) menimpa rumah penduduk di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung. Sudah dua kali media meliput jatuhnya meteorit di Pulau Sumatera (sebelumnya pada tanggal 1 Agustus 2020 di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara). Yang menarik adalah respons warga atas peristiwa itu yang menyiratkan betapa masih rendahnya awareness masyarakat Indonesia akan nilai ilmiah penting dari meteorit yang jatuh.

Padahal, sejak tahun 2013, melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang Keantariksaan mengenai benda jatuh antariksa, jelas dituliskan perlunya negara mengetahui dan bertindak mengamankan benda tersebut untuk keperluan ilmiah dan larangan bagi warga untuk menguasai, apalagi mengomersilkan, benda jatuh antariksa.Sudah tujuh tahun sejak UU itu dikeluarkan, tetapi penegakan di lapangan masih belum efektif. Sebagian besar masyarakat bahkan tidak mengetahui kehadiran UU ini. Diperlukan mekanisme efektif untuk menyosialisasikan UU tentang Keantariksaan ke akar rumput. Sesuatu yang bagi kebanyakan kepala daerah dan perangkat-perangkatnya di Indonesia merupakan urutan prioritas paling rendah atau bahkan tidak ada.

Salah satu yang dirasakan menjadi penyebab kurangnya literasi masyarakat di segala strata adalah kurangnya clearing houses di seluruh pelosok negara, di samping tiadanya instrumen di pemerintahan untuk fungsi-fungsi. Jika toh warga menemukan atau rumahnya tertimpa meteorit, ke mana ini harus dilaporkan? Bagaimana kompensasinya? Ke mana ini harus diserahkan? Apa akibatnya jika dimiliki atau bahkan dipejualbelikan?

Sejumlah pertanyaan ini tentunya harus dijawab oleh lembaga atau insan yang kompeten dan itu bisa berada di lembaga negara, SKPD provinsi, perguruan tinggi, atau komunitas astronomi (yang kita amati semakin berkecambah jumlahnya di Indonesia). Kita cukup merasa beruntung dengan inisiatif dua dosen muda dari Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan serta Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang menyambangi lokasi, bertemu dan berbincang dengan warga yang menjadi saksi peristiwa, termasuk yang menjadi korban rumahnya tertimpa meteorit.

“Kita cukup merasa beruntung dengan inisiatif dua dosen muda dari Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan serta Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang menyambangi lokasi, bertemu dan berbincang dengan warga yang menjadi saksi peristiwa, termasuk yang menjadi korban rumahnya tertimpa meteorit.”

Upaya pertama meminta agar meteorit dapat dibawa ke laboratorium serta-merta ditolak sehingga pengujian hanya bisa dilakukan secara in situ dengan terbatas, dilanjutkan dengan mengambil sampel kecil (5 gram) yang dikikis dari meteorit seberat 2,2 kilogram. Kita masih menantikan hasil pengujian di Laboratorium Geosains ITERA.

Meteorit ini sebenarnya bisa menjadi item penting dalam Museum Geologi yang bermanfaat bagi banyak pelajar yang sedang mempelajari astronomi dan kebumian untuk menjawab pertanyaan penting tentang sejarah terbentuknya tata surya hingga potensi hazardous objects dan perencanaan mitigasinya jika sewaktu-waktu bencana meteor dalam skala yang lebih besar menimpa. Tidak kalah penting bagi masyarakat untuk memahami potensi bahaya dari space debris yang merupakan bangkai satelit (kasus jatuhnya bagian dari roket China baru-baru ini). Bukan tidak mungkin satelit memuat payloads atau bahan roket pendorong mengandung radioaktif yang berbahaya bagi manusia.

Pertanyaan mengenai perlunya sebuah observatorium di Sumatera ini kembali muncul di benak setelah menghadapi berbagai episode wacana pengembangan suatu lembaga yang dapat berperan signifikan dalam telaah langit di Sumatera demi kepentingan masyarakat luas. Setelah hampir seabad Indonesia yang luas ini hanya memiliki satu observatorium yang representatif di Lembang, Jawa Barat, dan satu-satunya wadah penggemblengan sumber daya manusia dalam bidang astronomi dan sains antariksa. Sudah waktunya dipikirkan secara saksama pengembangan observatorium di wilayah timur ataupun barat. Rektor dan pimpinan ITERA, satu dari dua institut teknologi baru di negara ini, pada tahun 2016 menggagas rencana pembangunan observatorium astronomi di kawasan Lampung. Pembentukan konsorsium bersama Institut Teknologi Bandung dan Pemerintah Provinsi Lampung merupakan langkah pertama yang dilakukan.

Berbagai kajian yang secara garis besar meliputi kajian aspek hukum, infrastruktur, dan sarana-prasarana observatorium dilakukan secara intensif oleh para staf ahli kantor gubernur serta staf akademik ITERA dan ITB. Lampung dan masyarakatnya akan berbesar hati dengan memiliki sebuah observatorium astronomi modern yang tidak saja menopang riset dan memberi layanan pendidikan bagi mahasiswa program studi sains atmosfer dan asntariksa, tetapi juga dalam melaksanakan program public outreaches.

“Sudah waktunya dipikirkan secara saksama pengembangan observatorium di wilayah timur ataupun barat. Rektor dan pimpinan ITERA, satu dari dua institut teknologi baru di negara ini, pada tahun 2016 menggagas rencana pembangunan observatorium astronomi di kawasan Lampung.”

Berdasarkan penelaahan citra satelit NOAA, struktur geologis, studi perilaku meteorologis dan mikroklimat, dampak lingkungan, dan yang terpenting adalah survei situs dengan mengerahkan teleskop astronomi dan peralatan lain sepanjang periode 2017-2018, Gunung Betung merupakan tempat yang cocok untuk pembangunan observatorium. Degradasi kemampuan dan daya dukung lingkungan Observatorium Bosscha di Lembang menjadi premis penting dan motivasi utama mendirikan observatorium serupa, bahkan lebih modern, di kawasan Lampung. Belajar dari sejumlah observatorium di mancanegara, keberadaannya paling banyak di lahan konservasi mengingat obervatorium selalu berperan dalam menjaga keutuhan kawasan mengingat kebutuhannya untuk menjaga kelangsungan fungsi, seperti langit yang gelap, polusi udara minimal, dan ekosistem yang tidak rusak.

Sebagai contoh, Anglo-Australian Observatory di Coonabarabran menempati lokasi kangaroo sanctuary terbesar di Australia Selatan. Observatorium ini ikut menjaga keutuhan sanctuary tersebut. Keberadaan observatorium di Gunung Betung jelas akan menjaga keutuhan kawasan konservasi karena efektif dalam menangkal setiap upaya mengalihfungsikan lahan, menjaga nocturnals dan ekosistem karena kebutuhan langit yang gelap untuk menunjang penelitian.Semangat masyarakat hingga ke tingkat regional begitu tinggi, dengan harapan besar terhadap ITERA bersama observatorium astronominya (Observatorium Astronomi ITERA Lampung/OAIL) dan Komunitas Astronomi Lampung (Kala) untuk dapat menjadi tumpuan utama Lampung dan Sumatera dalam diseminasi hasil penelitian astronomi dan astrofisika, sosialisasi, ataupun proses pencerdasan manusia lainnya.

Langit di atas Sumatera yang relatif stabil, diukur dari derajat kenampakan yang nilainya kecil, dan cuaca yang predictable menjanjikan untuk berlangsungnya pendidikan publik sekaligus astrotourism yang cerdas, tidak saja bagi masyarakat Lampung, tetapi juga Sumatera dan sekitarnya. Oleh karena itu, jika pertanyaannya perlukah observatoium di Sumatera? Jawabnya, diperlukan dan masyarakat sangat mendambakan. Banyak fenomena langit, kepentingan masyarakat akan fenomena langit, dan penggalian kearifan lokal, archeoastronomy, hingga astrotourism yang menantang kreativitas ekonomi dapat digali dan ditumbuhkembangkan melalui kehadiran observatorium modern dengan fungsi publik yang berimbang dengan fungsi riset.

Mumpung masih belum terlambat. Jangan sampai meteorit jatuh dilewatkan dan diabaikan sehingga hanya penyesalan yang dituai ketika mengetahui meteorit itu telah berpindah tangan ke kolektor di luar negeri. Jangan sampai masyarakat memperlakukan meteorit sebagai jimat yang jangan-jangan dianggap bisa menyembuhkan Covid-19 sehingga air rendamannya menjadi komoditas. Sungguh iba dan miris apabila hal itu terjadi.


Tinggalkan Komentar



Copyright © 2016 UPT TIK - Institut Teknologi Sumatera (ITERA)